Langkah Pertama.

23:05



"Semoga kuliahnya lancar hari ini nak", pesan pertama yang gue baca hari itu. Yup, hari ini adalah hari pertama gue menginjakan kaki setelah melepaskan title sebagai siswa dan menyandang gelar baru yaitu sebagai "Maha-Siswa". Sebuah gelar yang cukup "keren" di kepala gue waktu itu. Karena dengan gelar itu, gue udah ngerasa bisa ngelakuin apapun, dimanapun, kapapun, dan dengan siapapun. Yang dibutuhin cuma tenaga yang lebih, stamina yang lebih, dan uang yang lebih.


Balik ke benang merah cerita.


Pagi ini dengan guyuran air yang cukup dingin, gue mulai membasahi seluruh tubuh, yang kemudian diimbuhi dengan shampo di bagian kepala, dan... *oke ga usah dilanjutin.


Pakaian baru, sepatu baru, buku baru, rambut baru, dan tentu saja gelar MAHASISWA BARU resmi gue bawa hari ini. Sebagai seorang Lelaki dengan garis keturunan Pertama asal Sumatera, gue udah siap menghadapi hidup sebagai Mahasiswa yang konon katanya berawal Indah, berjalan susah, dan berakhir bahagia ini dengan doa dari orang tua dan tentu saja dengan segudang asa penuh makna yang selama ini udah gue pendem di bagian khusus di hati dan otak gue tercinta.



SMS dari nyokap tadi juga menandakan bahwa gue harus berangkat kekampus tercinta untuk mengikuti kuliah perdana di hari pertama. Dengan senyum yang telah gue atur agar tetep simetris, gue mulai melangkahkan kaki meninggalkan kamar kos berukuran 3x4 menuju kampus tercinta. Dengan lafazh Bissmillah ayunan kaki pertama resmi dilangkahkan. Setiap langkah yang gue ambil hari itu berbanding lurus dengan imajinasi-imajinasi yang terus menerangi pikiran gue, sebuah imajinasi dari hasil pembuahan Sinetron dan FILM tentang dunia Perkuliahan yang selama ini gue tonton. Imajinasi indah yang bermakna bahagia yang tentu saja bertemakan "CINTA". Maklumlah, seorang Pujangga lulusan SMA dari Jurusan IPA yang lebih mengabdikan diri untuk mengerti akan Cinta yang Fana dibandingkan mengerti akan rumus Fisika dan Kimia.


Hari itu emang dunia terlihat lebih cerah dibanding biasanya, dan gue beranggapan bahwa Semesta pun seolah membuka lembaran baru mengiringi hari gue yang juga baru.


Nyampe di kampus, seperti kebanyakan Mahasiswa lainnya gue mencoba mengakrabkan diri dengan spesies-spesies sejenis yang kala itu juga terlihat rapi di hari yang baru. Disini ada yang sok asik dengan nanya-nanya dan ngeluarin omongan ga jelas, ada yang sok keren dengan ninggi'in cerita masa lalu, ada yang beneran lucu, ada yang suka menyendiri, ada ini, ada itu, ada banyaklah pokoknya. Hampir semua spesies manusia ada disini. Dan Hari itu dengan bangga gue bilang "Ini lah dunia nak!".


Lagi sibuk becanda, lagi sibuk ngobrol, tiba-tiba pandangan gue terhempas ke arah seonggok, setubuh, sebatang, sebuah, sesosok manusia bermata indah, berjenis kelamin wanita, yang kalo tersenyum seolah dunia sudah ga ada isinya, sebuah senyum yang ngebuat gue meleleh dan melting jadi salah tingkah.


Semesta memang sungguh baik hari itu, di hari pertama gue menemukan seonggok bidadari yang mungkin tercipta di Surga, kemudian terhempas ke Dunia untuk bisa di pertemukan dengan seorang Pujangga asal Sumatera yang kemudian bisa merajut asmara, dan kemudian membuat Surga kembali hanya untuk mereka berdua.

Cinta pada pandangan pertama? Entahlah. Yang jelas di hari itu dengan sebuah pandangan, gue berkata "Cerita Baru telah di mulai".


You Might Also Like

0 komentar