Muucih Qaqa Radit!

19:24



Ga tinggi, ga terlalu sexy, ga terlalu banyak memaka make up, tapi punya mata yang teduh dan senyum yang selalu bisa bikin melting. Pandangan yang jauh berbeda 360 derajat dengan pandangan dari 3 tahun yang lalu. Setidaknya juga itu merupakan salah satu kriteria wanita idaman yang dimiliki oleh WE. WE disini berarti GUE yang dapet imbuhan W karena terlalu gaul, yang juga merupakan seorang mahasiswa biasa asal Sumatera yang memiliki pandangan dan mimpi yang luar biasa.


Tepat di awal tahun 2011, era dimana Korea Pop (K-Pop) mulai masuk dan merajai dunia musik Indonesia. Sebuah era yang dimana ketika itu seorang siswa SMA jurusan IPA bernama “Ojik” masih disibukan dengan kekosongan waktu yang memaksanya untuk lebih mengakrabkan diri dengan sebuah spesies bernama kasur dan bantal. Kekosongan waktu yang meliputi sebuah ruang dengan sebutan kamar berukuran 3x4 yang lebih sering diisi dengan suara dengkuran tidur, dan sesosok manusia yang lebih memilih bersikap apatis dengan sebuah kegiatan bernama “aktifitas”.


Beruntung punya teman sebangku yang sangat peduli, atau bisa dibilang lebih peduli ama kamar dan kasur gue, yang harus dipaksa kerja “Rodi” untuk menampung sesosok manusia apatis melebihi jam kerja yang seharusnya. Beliau atau si Doi memberikan sebuah novel berlafazkan “Kambing Jantan” yang dituliskan oleh seseorang yang bernama Raditya Dika. Jujur jangankan untuk membaca novel, berpikir untuk membaca aja rasanya udah syukur. Karena pada fase itu juga gue masih sibuk, sibuk maenin sabun yang konon katanya ga lekang oleh peradaban. Doi maksa supaya gue ngekhatamin itu buku. Tapi karena doi terus maksa dengan alasan supaya pola pikir gue berubah, yang diimbuhi dengan kata “Jik, penulis ini garis muka nya hampir mirip sama kamu”, akhirnya ya gue pun nerima itu buku.


Rasa yang awalnya ogah-ogahan mulai berubah menjadi semacam semangat, ketika tahu bahwa Percintaan juga merupakan subjek utama dari novel ini. Sebuah subjek menarik, yang semakin membuat semangat untuk membaca lembaran-lembaran halaman selanjutnya. Meskipun bergenre komedi, novel yang berformat seperti diary ini juga menceritakan tentang pengalaman pribadi penulis.Tentang cintanya yang kandas akibat terlalu mencari yang sempurna, tentang sekolahnya yang gagal, dan tentang kesulitannya ketika menempuh pendidikan.


Raditya Dika seolah-olah menggambarkan bahwa Kreatif itu ga ada batasan, meskipun kita dalam batasan. Mengenai Cinta si Empunya Novel ini berkata dalam satu bab ceritanya bahwa “Jangan cuma cari yang cantik, karena cantik bisa cepet digantiin, dilupain, dan ditinggalin”. Hal senada yang kemudian timbul dipikiran gua bahwa percuma punya gebetan 1000 cantik, tapi cuma dapat luka dan derita yang kemudian diakhiri dengan tangisan diujung shower sambil berteriak “Kenapa..kenapa”. Karena pada akhirnya yang Cantik akan kalah sama yang setia dan selalu ada.


Hal itu lah yang digambarkannya dengan diterbitkan oleh novel ini. Karena novel ini juga secara tidak lansung ngebuat gua untuk jadi manusia yang lebih produktif, manusia yang balik lagi ke rotasi yang seharusnya. By the way karena flashback ke masa ini juga, sekarang gue jadi aktif untuk ngeblog lagi. TAMAT!

You Might Also Like

0 komentar